Berubah I (Uqdatul kubro)

Berubah

#1 Uqdatul Kubro


Ba’da maghrib kemarin saya mengisi halaqoh BAB Qiyadah Fikriyah, point dasar pemikiran tegaknya ideologi sosialis komunis. Dengan begitu, secara otomatis saya kembali mengingat-ngingat materi yang disampaikan guru saya dulu tentang point ini. Karena jujur saja point bahasan sosialis komunis itu paling njelimet, alasannya pertama, sekarang kita tidak mengindra langsung bagaimana pemikiran ini diemban sebab sudah tidak eksis lagi dan kedua, ideologi ini tidak sesuai fitrah manusia.


Tidak tahan untuk flashback, dan mentertawakan kejahilan saya dulu..


Kelas 3 SMP 2015 bulan Juli lalu saya diberikan tiga pertanyaan oleh guru ngaji saya. Tiga buah pertanyaan yang menjadi simpul besar pemecah masalah kehidupan. Pertanyaan itu adalah “Darimana kamu berasal?”, “Untuk apa kamu hidup?”, dan “Akan kemana setelah meninggal?”. Guru saya menambahkan, jawaban seseorang dari ketiga pertanyaan ini akan menentukan aqidah dia apa. Apakah islam? Apakah sekuler? Atau Atheis sosialis?


 Langsung saja pada jawaban saya ketika itu menjawab pertanyaan besar tersebut.

Jawabannya adalah, “Darimana saya berasal”? saya jawab dengan menjelaskan proses biologis bertemunya sel telur dengan sperma dan seterusnya. 

Kemudian “Untuk apa saya hidup?” saya menjawab dengan seabreg ambisi dunia diantaranya mengejar prestasi, sukses (materi), membahagiakan orang tua, mebanggakan keluarga,dll. 

Terakhir “Akan kemana saya setelah meninggal” ringan sekali saya jawab “Ke Tanah”.


Guru saya tersenyum dan menjelaskan yang pada intinya jawaban saya adalah jawaban orang yang aqidahnya atheis, sosialis, komunis sedangkan jawaban aqidah islam adalah Dari Allah, Untuk Allah (Ibadah) dan Kembali kepada Allah (di hisab). Mengejutkan tapi saya masih mencari pembenaran, diantaranya saya menjawab ..


1. Memang semua juga dari Allah, tapi kan itu lewat proses yang saya sebutkan tadi? Gaakan terjadi kalo gada proses tadi ( logika kebalik harusnya proses biologis gaakan terjadi jika tidak ada Allah).


2. Memang kita di dunia harus ibadah, tapi kan kita juga perlu kerja, sekolah, bergaul masa setiap waktu hanya harus solat, puasa, ngaji? ( Dangkalnya saya dulu memahami ibadah adalah urusan ritual hablumminallah saja)


3. Iya memang kita akan kembali kepada Allah tapi secara lahiriyyah kan ke tanah (untukjawaban ini masih melekat dipikiran saya sebuah buku yang pernah saya baca waktu itu yang menjelaskan pada intinya kehidupan ini berputar, ketika manusia hidup kemudian mati dia kembali ke tanah dan jasadnya menyatu dengan tanah kemudian diatas tanah itu manusia beraktivitas salah satunya menanam sesuatu yang kemudian dia makan hasilnya itu, intinya perputaran kali ya. Seakan manusia kalo mati jasadnya jadi pupuk gitu? Buat memberikan makanan ke yang masih hidup)🤭


Subhanallah.. saya berpikir ngeri gimana jadinya kalo saya gak ngaji, mau jadi apa saya?😌


Selama saya menyampaikan kembali pertanyaan besar tadi pada orang-orang sekarang, saya belum pernah menemukan jawaban yang agak mirip dengan saya dulu. 

Bukan tanpa sebab, ketiga jawaban saya tadi itu ada alasannya. Tidak asal jawab melainkan berasal dari  pemikiran saya dulu (sebelum ngaji) tentang kehidupan. Padahal saat itu saya merasa keislaman saya sudah lebih baik dari teman yang lain karena saya hidup di lingkungan pesantren dan sempat juga menimba ilmu sebagai santri (kalong) di pesantren.

Benarlah apa yang disampaikan oleh Syaikh Taqiyuddin Annabhani tentang Kepribadian Islam. Tidak cukup bila hanya pola pikir atau pola sikapnya saja yang islam. Di katakan Kepribadian Islam jika kedua unsur (pola pikir dan pola sikap) seseorang itu Islam.


(Bersambung)

Komentar