"Memeluk Masalah"

Jika diingat kembali.
Sudah cukup lama kita tidak baik-baik saja.
Terhitung sejak kesalahpahaman kamu padaku, jalinan pertemanan kita terganggu.
Segala kaitan aku dan kamu rasanya sangat sensitif.

Sakit hati, salah bicara, salah mengartikan, salah faham kemudian bertemu, tersenyum, menyapa seadanya lalu saling diam dengan waktu yang lama.
Kau pernah sakit hati padaku dengan kesalah pahaman yang kau buat sendiri sebetulnya.
Sebetulnya aku baik-baik saja sebelum berkali-kali dengan diamnya kamu, membuatku tidak faham akan segala maksud sikap dan keinginanmu yang lalu ku tanggapi tindakan ambigu mu dengan perasaan sensitif ku.

Aku tidak mudah berkata aku tidak suka seseorang.
Aku tidak mudah membenci manusia.
Aku tidak mudah sakit hati oleh perlakuan manusia.
Aku bisa dikatakan manusia yg cukup enjoy menghadapi sikap manusia padaku.
Aku 'mengadposi' apa yang di tulis Tere Liye "Tidak ada yang bisa menyakitimu selama kau tidak mengizinkan orang lain menyakitimu".
Ya, aku tidak mengizinkan orang lain menyakitiku.
Hingga suatu ketika berulang kali ku hadapi dirimu yang diibaratkan berulang kali menabur bubuk cabai pada luka yang dengan sekuat tenaga ku tutup dan obati.

Jadilah aku orang yang mendiamkanmu.
Dengan sebuah prinsip "aku tak mengerti dirimu, lebih baik ku diam dan jauh darimu".

Mungkin sebenarnya
Kamu seorang yang baik. Aku juga yakin adalah orang yang berusaha selalu baik. Niat kita sama sama baik. Hanya saja sikap saling tidak peduli dan tinggi nya ego kita membuat semua tingkah kita bernilai salah.
Aku merasa cukup dengan bersikap baik dan seperlunya saja padamu.


Sekian waktu, terhitung cukup lama ku berpegang pada prinsip ku itu.
Segala yg menimpa mu sendiri, atau menimpamu dan berkaitan denganku. Ku diamkan. Betul-betul aku tidak peduli. Terkadang aku merasa cukup dengan prinsipku padamu itu.

Namun, ternyata diamku ini tidak meredakan, yang ada seperti balon gas yang siap meledak sewaktu-waktu karna terus-terusan di pompa.
Bukannya semakin padam, malah menyalakan api kecil yang pasti terus menyala.
Bukannya meredupkan masalah kamu dan aku, yang ada semakin terkait aku dan kamu dalam masalah yang tidak kuharapkan.
Aku merenung, lalu tersadar.
Mungkin ini sebuah 'kode' dari Allah. Heii sadarlah, Allah ingin aku untuk belajar dan menjadi seseorang berjiwa besar.

Ini saatnya aku melakukan apa yang dikatakan Tere Liye dengan "memeluk kesedihan" ya.. saatnya aku "memeluk amarah", "memeluk masalah" dan..menerimanya..
Setelah lari terbukti tidak meredakan masalah. Setelah diam tidak memadamkan masalah. Ini saatnya aku berbalik badan lalu siap menyambut masalah dan ketegangan yang ada dengan kerelaan. Saatnya aku menghadapi semuanya dan beramah tamah pada keadaan yang membuat sesak hatiku. Karna ku yakin, kita yang harus menciptakan kondisi ramah hati untuk kita sendiri sekalipun dalam kondisi terburuk bagi hati kita.

Ya ini saatnya membuang ego. Membersihkan hati dan memaafkan situasi yang pernah tidak berbaik hati padaku.
Dan inilah akhirnya, kita saling rangkul dan kembali menulis kehidupan yang berkaitan dengan masing-masing kita dalam lembaran yang baru. 😊😊🌷🌷

Komentar