Bagaimana islam memandang bahasan dan ilmu psikologi?
Sebetulnya, islam sejak dahulu yakni generasi Rosulullah dan
para sohabat bahkan hingga era tabi’in dan tabiut tabi’in tidak mengenal ilmu
psikologi, bahkan tidak membutuhkan. Bahkan, kalo saya baca-baca materi
psikologi sebagian besar atau boleh dikatakan semuanya berasal dari para
pemikir barat, hanya sebagian kecil saya rasa yang berasal dari ilmuwan muslim, itupun hanya materi pendukung saja seperti Sosiologi, Ibnu Khaldun adalah tokohnya pada sekitar abad 13
M.
Dunia ini mengenal ilmu psikologi sekitar abad ke 18
tepatnya tahun 1879 dengan tokoh terkenalnya yakni Willhelm Wundt. Sedangkan
kejayaan islam mulai eksis mulai abad ke 7-18 M, dengan banyak ilmuwan nya mencapai puncak
ilmu pengetahuan dimasa Dinasti Abbasiyah sekitar abad ke 8-11 M.
Dari perhitungan itu, jauh sekali yaa dengan lahirnya
psikologi, maka tidak salah kan jika saya mengatakan Islam itu tidak butuh
bahasan psikologi?
eh, tapi jangan heran dulu, bukan maksud saya anti psikologi
ya..kebalik justru aku mahasiswi pertanian yang mendambakan kuliah di jurusan
psikolog he.
Kenapa islam tidak butuh psikologi, singkat saja karena
islam sudah sangat cukup dengan bahasan aqidah dan syariah saja.
Psikologi ini kan bermula dari datangnya pertanyaan mengenai
bagaimana cara memahami manusia dengan segala perilaku dan sifatnya, terlebih
masalah kejiwaanya. Maka para ahli psikologi jaman dahulu mencoba mendefinisikan jiwa,
hidup, ruh, mental, hati, dan sebagainya.
Mereka berusaha memahami segala potensi yang ada dalam diri manusia. Hingga
akhirnya berkembang ke Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan, Psikologi
Industri, Psikologi sosial, dan Psikologi Pendidikan.
Lalu bagaimana dengan islam?
Islam dengan bahasan aqidah dan
syariah nya sudah mampu menjawab itu semua. Karena pengajaran islam mengenai
aqidah dan syariah (aturan) sudah otomatis akan menghasilkan seseorang yang
berkpribadian islam yakni pola pikir dan pola sikapnya Islam. Masalah potensi
manusia, islam punya jawaban dicirikan dengan pengaturan islam mengenai
pemenuhan kebutuhan jasmani seperti sandang, pangan, papan, kemudian masalah
emosi, masalah naluri seksual. Untuk masalah ruh, jiwa, hati, itu adalah ranah
naqli dimana kita cukup meyakini keberadaannya dari Sang Maha Pencipta, dan
tidak perlu mencari lebih jauh cukup fahami dan gunakan sebaik mungkin sesuai
dengan misi penciptaan (adz dzariyat : 56), begitupun untuk masalah hidup, islam
memberikan pengajaran Qadha Qadar, dan seorang mukmin harus mengimaninya
(bahasan qodho qodar ini panjang silahkan japri saya hehe).
Lalu mengapa orang barat membutuhkan ilmu psikologi?
Karena kehidupan mereka tidak berintegrasi dengan Sang
Pencipta. Maksudnya begini, tokoh-tokoh psikolog Barat itu hidup di era Sekuler
dan begitupun aqidah mereka yaitu sekulerisme. Apa itu sekulerisme? Yaitu sebuah
faham pemisahan agama dari kehidupan, dimana kehidupan dunia dilarang dicampuri
oleh agama (sejarahnya ketika masa kegelapan Eropa yakni masa perseturuan kaum
gerejawan dan cendekiawan, japri saya ya hehe kalo mau penjelasan lebihh lanjut
nya)
Dari faham sekuler ini, para penganutnya itu ketika
melakukan suatu aktivitas merasa hampa dan kosong sebab tidak jelas untuk apa
dan untuk siapa secara hakikatnya, wajar saja mereka tidak mengintegrasikan
kehidupan dengan ketuhanan. Dan fitrah manusia itu lemah, jika lemah dia akan
membutuhkan sesuatu yang lebih besar dari dia untuk jadi sandarannya. Akhirnya mereka berjalan tidak sesuai dengan fitrahnya, merasa ada yang kurang, bertanya lalu
mencoba mencari jawaban dari segala kehampaannya. Termasuk terdorong untuk mencari hakikat manusia dengan segala masalah kejiwaannya.
Bagaimana dengan Islam?
Islam dengan segala kesempurnaanya mengenal adanya konsep idrok sillah billah yaitu kesadaran bahwa setiap aktivitas terhubung dengan Allah sebagai pencipta, juga mengenal aspek kerohanian yakni kesadaran kita sebagai manusia dan Allah sebagai Pencipta kita karena itu kita wajib diatur seluruh aktivitasnya sebagai wujud penghambaan kita kepada-Nya. Ini dia yang dimaksud dengan Tujuan Manusia Diciptakan Hanya Untuk Beribadah kepada Allah. Yakni mau diatur semua kehidupan dengan aturan-Nya agar bernilai ibadah. Dengan femahaman ini, umat islam tidak mengenl adanya kehampaan dalam melakukan segala aktivitas, dia sangat memahami hakikat kehidupan. Dia selalu merasa memiliki sandaran.
(next)

Komentar
Posting Komentar