Rumit. Coba Kalo Ngomong, Kan Beres.
Betul ya kita tuh ga boleh meremehkan komunikasi. Hampir semua
masalah antara seseorang dengan orang
lain itu sebab tidak terjalin komunikasi dengan baik dan benar loh.
Dari 24 buku Tere Liye yang aku baca hampir semua novel nya
itu ada masalah sebab gak ada komunikasi yang benar.
Di novel Hujan, Layl dan Esok. Kenapa Esok ga ngasih
penjelasan sih tentang perasaanya, kerjaanya, apa yang sedang dia lakukan, akan
ada apa dimasa depan, kan gak akan terjadi tuh bertahun-tahun Layl nunggu,
menyibukkan diri biar ga kepikiran terus Esok, sampai pada puncaknya Layl
mendatangi Elijah seorang psikolog dan ingin menghapus semua ingatannya yang
berkaitan dengan Esok.
Di Novel Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah. Andai Mey itu
sejak awal ngomong, ga menghindar gitu aja mereka pasti ga perlu ngalamin galau
sampai 5 tahun, menunggu penjelasan, sampai Mey sakit. Satu, masalahnya Mey ga
mau ngomong langsung malah nulis surat yang dimasukin ke amplop merah dan dasar
Borno Pemuda dengan hati paling lurus sepanjang tepian sungai Kapuas, mentang
hatinya lurus engga kepo tuhh sama isi surat malah disimpen gitu aja.
Di Novel Ayahku Bukan Pembohong coba, kenapa ayah si Dam itu
ga ngomong sejak awal kalo cerita itu bukan bohongan, kenapa ayah nya ga
ngejelasin apa yang terjadi sama dirinya dan ibunya si Dam, malah diem aja smpe
si Dam dewasa dan jadilah Ayah nya gak di percayain lagi sama anaknya yaitu si
Dam.
Lalu, novel Sunset Bersama Rosie ini yang paling greget.
Coba kalo Tegar itu ngomong sejak awal tentang perasaanya ke Rosie, kan gaakan
tuh dia keduluan sama Nathan, Rosie nya lagi kenapa ga ngomong juga. Jadilah
tegar galau bertahun-tahun. Dan Rosie nikah sama Nathan.
Terakhir, novel Tere Liye yang pertama kubaca Daun Yang
Jatuh Tak Pernah Mambenci Angin, miss kom deh pokonya, gaakan dijelasin baca
aja. Sumpil ini greget bgt.
Tapi ya..itulaah hidup, gaakan rame kalo gaada bumbu nya.
Lurus-lurus aja ya memang,
Kalo sejak awal Esok udah jujur, ya Layl gaakan belajar
banyak hal, dia tidak akan melewati kisah-kisah luar biasa. Atau kalo Borno
tingkat penasarannya sama kaya aku terus buru-buru membuka amplop itu dan Mey
engga menghindar tapi menjelaskan, mungkin novelnya gaakan sampe 500 halaman
lebih, dan Borno tidak akan mendapat petuah Kisah Cinta nya sendiri. Atau jika
sejak awal, ayahnya Dam menjelaskan bahwa cerita itu nyata, dan menjelaskan apa
yang sesungguhnya terjadi kepada ibunya, kita sebagai pembaca novel gaakan
ngambil pelajaran tentang arti kebahagiaan yang sesunggguhnya dan mengambil
pelajaran agar tidak mengalami penyesalan yang dirasakan Dam pada ayahnya. Dan terakhir,
jika sejak awal Tegar jujur padaa Rossi, tamatlah novel nya baru aja halaman 50
juga hehehehe.
Yah itulah hidup, rumit. Tapi memang tambah rumit jika kita
hanya diam, menghindar, tidak mau menjelaskan, menyimpannya dalam-dalam
kemudian tidak disadari menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisaa saja
meledak.
Jadi, dear...ada masanya memang kita harus diam tapi tidak semuanya
harus didiamkan jika memang itu harus dijelaskan yaa jelaskan, karena orang
gaakan ngerti kalo kita ga jelasin. Tapi jujur sih, sebetulnya ini juga buat
aku sendiri. Aku yang diam-diam pergi padahal belum ‘selesai’ karena ada hal
yang belum aku jelaskan.
Hem, sulit..sebab takut, ya gengsi, dan berbagai prasangka
buruk lainnya yang menyebabkan aku tidak berani menjelaskan. Entahlah, aku
hanya berdo’a padaNya, YaaAllah jika memang hal ini harus aku jelaskan, berikan
jalan, aku bisa saja langsung menjelskan sekarang tapi aku takut Engkau tidak
suka dengan jalan yang aku lakukan.
Semoga kita bisa ambil pelajaran ya..

Emang... jika saja perempuan yang aku suka bilang sejak dulu, menjelaskan sejak dulu, tidak akan drama sedih berlama-lama. Tapi, ya betul, kalau seperti itu, perjuanganku sepertinya hanya akan menjadi perjuangan yang biasa saja
BalasHapusDari Prava yang sedang menunggu waktu yang indah itu tiba
Aku baru baca komen ini🥺🥰
Hapus