Negeri ini butuh manusia berkualitas part 2

Negeri ini butuh manusia berkualitas..

Yang memahami masalah kehidupan dan tau solusi nya.

Tidak lain tidak bukan solusi itu lahir dari Pencipta Alam semesta dan seisinya yakni Allah SWT.

Dan hal ini semakin terlihat tatkala pandemi..

Tidak sedikit muslim saat ini yang menolak sains dengan alasan beragam salah satunya tidak nyunnah.

Mereka lebih mempercayai apaapa yang mereka sebut sebagai sunnah nabi daripada harus percaya data dan fakta sains berdasarkan penelitian.

Mereka masih beranggapan kalo dunia sains dan islam itu tidak ada korelasi, bahwa islam berpisah dengan ranah bahasan sains dan teknologi.

Astagfirullah, kenapa umat ini,, yang halal diharamkan, yang mubah diharamkan, sedangkan yang haram dihalalkan...

Siapa bilang bahwa agama itu tidak boleh ikut serta dengan sains? Itu berasal dari sejarah eropa dahulu. Dimana otoritas gereja menolak pendapat para peneliti dan memaksa pendapat sains harus sesuai dengan kitab suci mereka, meskipun bertentangan. Akhirnya akita bisa temukan kisah sejarah Galileo Galilei yang dihukum mati oleh gereja karena pendapatnya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan gereja. Jelas hal ini menyebabkan trauma kepada manusia untuk kemudian menjauhkan sains dan agama.

Namun pertentangan itu tidak berlaku dalam islam, bahkan rosul sendri mengatakan bahwa “ Kamu lebih mengetahui urusan duniamu” tentu saja ini berkaitan dengan teknis dan sarana saja ya, bukan prinsipil semacam aturan kehidupan yang sudah jelas hanya boleh mengambil dari Allah. Sabda nabi ini mencirikan bahwa sains dan islam itu tidak dipisahkan, bahkan kita bisa menemukan dalam sejarah islam dulu tatkala seorang ilmuwan adalah seorang ulama juga, mereka menjadikan islam sebagai dasar penelitian mereka.

Namun saat ini, entah apa yang ada dalam pikiran sebagian umat mereka menolak rekomendasi  para ahli terkait pandemi, mereka tidak mau mendengar anjuran para ahli bagaimana seharusnya menangani dan menghadapi covid.

Hemmm rakyat cerminan penguasanya, ternyata penguasanya juga demikian.

 


Komentar