the power of jeritan hati




Tentang do'a dan jeritan hati.

Membahas tulisan lama tertanggal 13 November 2017 di buku diary ku.
Disana aku menulis tentang puncaknya kebingungan, lelah dengan segala ikhtiar yang entah hasilnya apa mengantarkanku pada peneyerahan semuanya pada Allah..

Begini teman-teman..Aku tipe manusia yang selalu terdorong dan ingin memaksimalkan setiap usaha.
Aku tidak mudah merasa puas dengan ikhtiar, takut Allah belum mengabulkan atau memberi keputusan sebab ikhtiar ku yang masih minim, hingga sedikit tersadarakan oleh sahabatku, bukan sekedar ikhtiar maksimal, dosa juga bisa jadi penghalang, katanya.
Baik, dua hal yang tidak boleh dilupakan untuk mengiringi ikhtiar maksimal adalah Do'a dan Taubat (istigfar).

Seringkali aku dihadapkan dengan sesuatu atau seseorang yang datang untuk menguji atau apalah namanya, intinya harus aku hadapi dan selesaikan.

Beberapa kali aku merasa gagal pada satu urusan,
Beberapa kali aku merasa sakit hati oleh manusia,
dan beberapa kali aku merasa tidak ada hasil setelah melakukan ikhtiar penuh.

Sedih, kesal, ingin marah, ditumpahkan oleh air mata dan do'a..
Do'a yang berasal dari jeritan dalam diri tentang kepasrahan..
"Ya Allah, aku serahkan urusan ini pada-Mu atau aku serahkan orang ini pada-Mu. aku tidak tau lagi harus bagaimana aku sakit hati, aku lelah, aku bingung, aku benar-benar menyerahkan urusan ini pada-Mu biar Engkau yang menyelesaikan urusan ini, aku hanya akan menunggu keputusan-Mu"

Dan, BUM..
MaasyaaAllah, setelah jeritan itu selang beberapa waktu Allah selalu menjawab do'a ku..
menjawab do'a ku dengan cara-Nya yang unik dan tidak disangka,
seingatku, yang  sudah ada 5 urusan besar yang sudah aku tumpahkan pada Allah sebab aku tak sanggup menyelesaikannya sendiri kemudian Allah jawab dengan keistimewaan-Nya.

Jawbannya seperti apa? macam-macam, ada dengan cara yang tidak menyakitkan pihak manapun dan ada pula cara yang menyakiti dirinya sebab aku merasa dia menyakiti ku, (aku tidak mengharap dia dibalas kesakitan oleh Allah atas perlakuannya pada ku, tidak..aku ingin dia sadar namun tidak juga sadar, aku pasrahkan pada-Nya ternyata itu keputusan Allah yang diberikan padanya : Lewat kesakitan kemudian sadar)

Mungkun banyak bukan hanya 5 urusan itu, tapi yang paling kuingat adalah 5 urusan besar tadi.
Salah satu kisahnya aku tiulis di diary ku itu..
Tidak bisa disengaja memang, karena tadi aku bilang akau tipe manusia yang ketika berikhtiar, ikhtiar ku belum maksimal, makanya setelah memaksimalkan ikhtiar, dengan kesabaran yang dimilki..barulah jeritan itu tiba.
Tidak bisa direncanakan tergantung kondisi.

Dan akhir-akhir ini aku sering membaca postingan yang berisi tumpahan doa senada dengan itu dari pengemban dakwah yang sedang dizholimi, maasyaaAllah..aku dapat merasakan kata-kata itu betul lahir dari puncaknya sedih dan sakit kemudian ditumpahkan pada-Nya, menjerit menembus langit membuka pintu-pintu ijabah dilangit sana, menggetarkan siapa saja yang mendengarnya kemudia ikut diaminkan oleh malaikat..

Komentar