Belajar dari kulit sensitif


Kulit tanganku.
2020, kamu betul-betul banyak ngasih kejutan buat aku, tidak hanya aku sepertinya, orang lain juga. Tapi karna ini kisahku, maka peran utamanya adalah aku.
Banyak kejadian yang tidak terduga di tahun ini, termasuk pelajaran yang didapat.
Sudah lama kulit tangan ku bermasalah, sensitif, ya bertahun juga aku dengarkan keinginannya untuk : tidak terlalu banyak melakukan hal yang membuat sensitifnya kambuh.
Tidak hanya aku ternyata, orang-orang disekitarku juga pernah termasuk kaka perempuan ku.
Mereka bilang “setelah nikah sembuh”, loh kok bisa?
Sekarang aku tau jawabannya, bukan berarti “harus nikah biar sembuh”, seperti yang sering mereka katakan. Melainkan, aktivitas dalam pernikahan tidak memberikan piliihan untuk mereka manja mendengarkan keinginan kulit sensitifnya.
Bulan ramadhan ini, berbarengan dengan karaktina dirumah sebab pandemi, aku menemukan jawabannya.
Kedua orang tuaku sakit, kita hanya bertiga dirumah.
Dan kamu tau apa yang aku kerjakan? Ya ibaratkan ibu rumah tangga.
Bagaimana dengan kulit tanganku? Perih, iya.. sedikit luka, iya, kering, iya...ah pokonya gabisa dijelasin hihi
Terus apa pelajaranya? Begini, jika ikhtiar belum menemukan hasil, biarkan waktu yang mengobati, jika waktu belum juga menyembuhkan, biarkan pembiasaan yang menyembuhkan. Ya, terbiasa sakit, terbiasa perih, sampai lupa kalo ini tuh lgi perih loh, saking udah biasa kali ya.
Nah, pelajaran itu yang aku dapat dari kulit tanganku, bisa kita gunakan konsep diatas untuk “segala luka”, luka fisik atau batin. Berat sih, masa harus terbaisa perih? Ya bagaimana lagi, itu pilihan terakhir setelah ikhtiar dan waktu belum juga menyembuhkan yaa pembiasaan.



Komentar