Kamu suka
hujan?
Adakah suatu
periastiwa yang selalu kau ingat ketika hujan turun?
Setiap hujan
turun, kau ingat setiap jengkal kejadian masa lalu itu, tergambar kembali
terasa setiap detail nya, seakan kita kembali lagi ke masa lalu itu.
Aku selalu
ingat suatu peristiwa ketika hujan turun.
Aku ingat
sekali ketika itu suasana hatiku betul-betul buruk, aku menyebut bulan-bulan
itu adalah kondisi galau ku yang berkepenjangan.
Sebetulnya
itu adalah kondisi yang menyakitkan tidak pantas diingat, namun bukan hanya itu
kejadian yang mengesankannya. Melainkan ketika itu aku belajar untuk bangkit,
menerima, ikhlas, memaafkan dan berdamai dengan segala kesakitan, kekecewaan,
dan penyesalan.
Tidak mudah,
memang.. apalagi saat itu aku belum begitu mengenal dekat Allah. Aku belum faham konsep
kehidupan dan hakikat hidupku untuk apa juga tujuan hidupku akan kemana.
6 tahun yang
lalu..
Bulan-bulan
kujalani dengan hati terpuruk.
Meski ketika
itu, aku tidak menampakan ekspresi galau berkepanjangan itu.
Aku tetap
tersenyum, menjalani hari-hari seperti biasa, menambah aktivitas untuk
mengalihkan peraasaan galau itu.
Dan bagian
yang paling kuingat ketika hujan adalah...
Aku bersama
sahabatku, berjalan, berlarian, main-main dibawah hujan.
Masih ingat,
ketika itu aku menggunakan sepatu pantopel merah, kemeja putih sepaha, celana
kain dan kerudung paris merah dan tas soren kecil. Tujuan kita saat itu adalah
toko buku salemba hypermart. Kita tertawa, bercerita, berlari, tertawa lepas
meski ku tau hatiku belum bisa ku bawa tertawa, begitupun sahabatku tau betul
luka dihatiku seperti apa. Tapi dia memilih tidak bertanya dan menceritakan
apapun yang berkaitan dengan itu. Sepanjang musim hujan, hampir setiap minggu
kita rutin melakukan kegiatan itu, mengunjungi toko buku, perpustakaan, makan
nasi goreng kesukaan kita, memburu novel.
Dibawah
hujan, diatas keputus asaan aku duduk merenng untuk berubah.
Menjadi
manusia yang lebih tertutup, tidak mudah percaya, dan tidak akan peduli
sekitar.
Ya, itu
tekadku dulu, saat merasa rapuh, hancur, kecewa oleh dunia dan manusia-manusia
di sekitarku. Saat itu, aku merasa kesal pada diri sendiri yang mudah percaya pada orang lain mengnggap selalu bik dan jujur orang-orang sesuai yang aku lihat, dan akuuu terlalu ceria, selalu senyum, over senyum, over sapa, over ceria, fyuuuh. Sampai-sampai aku berpikir untuk berubah menjadi orang tertutup dan tidak percay pada siapapun. Ya, itu hanya tekadku ketika hampir putus asa saj ternyata. Pada
kenyataannya, ketika galau itu sirna, hati kembali pulih, aku
tetap menjadi aku
yang periang.
Oh, hujan..
Aku selalu
suka saat kamu turun. Aku selalu ingat kenangan-kenangan ketika musim dirimu
hujan.
Musim hujan
saat aku anak-anak, musim hujan saat aku SD, SMP, sampai SMK. Banyak sekali
kenangan yang ku lewati dan kamu saksinya, hujan...

Komentar
Posting Komentar