cita-cita dunia ku?


Seseorang pernah bertanya “apa cita-cita dunia mu?”
Aku gak jawab.
Bukan karna gak punya cita-cita.
Malah sebaliknya, cita-cita ku di dunia ini banyak. Tapi tetep terkoneksi pada satu titik. Yaitu dakwah.
Aku gak jawab, bingung..entah darimana aku harus menjawab cita-cita ku.
Masalahnya, cita-cita besar itu telah aku kubur :’) sedih..
Cita-cita ku sejak kecil..
Aku jadi seorang Psikolog..
Ya, you can see now..sekarang aku kuliah di juruan apa..
Pertanian..
Menyesal? Tidak, hanya saja aku belum bisa menerima seutuhnya. Di beberapa waktu terkadang aku nangis, kenapa jauh banget sama ekspektasi?
Aku mau belajar ilmu kejiwaan, bukan bisnis pertaniaaan ;’)
Kalo nemu mata kuliah jurusan ini, susah..di pelajari sih tapi sambil nangis..
“ Pengen banget rasanyaaa...belajar sesuatu yang kita udah cinta dari awal, gak kaya sekarang, masih berusaha menumbuhkan cinta sama mata kuliah iniiii”
Kaamu tau? Ekspektasi aku..
Belajar psikologis..mata kuliah psikolog, psikolog anak, dewasa, sosial apapun itu..aku mau..
Mendengarkan orang lain, memberikan pertimbangan pada seseorang, membantu mereka yang gelisah, memeluk hangat pasien. Bekerja di tempat yang damai, sunyi, menemui klien, membuat laporan klien..
Ekspektasi ituuuu...indah sekali..
Menanti jam kuliah dengan tidak sabar, excited setiap berlangsung nya pembelajaran dikelas.
Aku tidak benci jurusan ku saat ini, setidaknya aku tidak malas dan bosan ketika duduk dikelas, engga cinta atuh minimal engga benci juga.
Kamu tau, aku sangat ingin jadi psikolog..
Itu cita-cita dunia ku, yang mau tidak mau aku kubur.
Tentu saja, aku bisa tetap belajar ilmu-ilmu psikologi secara informal..tapi hal itu terbatas.
Tapi sebetulnya aku masih boleh menyimpan harapan.
Aku berdo’a “ Jika umurku sampai, dan takdir mengantarku pada menemui seseorang yang akan menikahiku..semoga dia mengiziinkan aku untuk melanjutkan kuliah di jurusan psikologi dan mengizinkan aku kembali mengejar cita-cita ku” aamiiin..
Sahabatku menenangkan “ tidak ada ilmu yang sia-sia, kamu belajar ini..tidak sia-sia, banyak hikmah nya, perhatikan dan nikmati prosesnya”
Betul sekali..
Tapi aku belum bisa menerima, bahkan rasa sedih itu muncul di minggu aku sedang ujian tengah semester, bahaya kan...
Memang, dalam islam tidak terlalu perlu adanya bahasan psikologi.
Cukup dengan nafsiyyah dan syakhsiyyah, manusia..selesai.
Sejarah psikologi memang kebanyakan dari barat.
Memang tidak terlalu di fokuskan, tapi tidak lantas menjadikannya sia-sia dan bahkan haram kan..
Coba byanagkan..jika ilmu psikologi ini di sertai dengan bahasan nafsiyyah dan syakhsiyyah islam..betapa...akan menjadi sebuah kombinasi hebaaat..
Mendengarkan, menasihati, memberi terapi, di sampaikan padanya idrok sillah billah (kesadaran manusia sebagai ciptaan Allah)..
Yang frustasi, di peluk di dengarkan, di berikan solusi dengan ilmu psikologi lalu sampaikan ayat-ayat Al-Qur’an padanya tentang hakikat hidup ini..
Suat saat, aku menjadi seorang istri dan ibu..aku menjalankan hari hariku sebagai ummu warobatul bait, pengemban dakwah dan seorang psikolog..indah sekali, peran itu adalah jembatan aku menempuh jalan mardhotillah..
Hemmm..
Si aku kembali berhalusinasi.
Do’akan aku, cita-cita ku tidak bisa aku kubur..

Komentar