Tentang Literasi III ( Selalu ada pelajaran dalam setiap buku )

"Novel"

Pernah disinggung dalam tulisan sebelumnya, ketika SMP salah satu list bacaan favorit ku adalah novel. Khususnya novel islami.

Ada sedikit kisah tentang itu.
Ketika SMP aku betul-betul kecanduan dengan bacaan novel
Sampai-sampai 3 guru d SMP berkali-kali menegur aku untuk mengurangi kebiasaan itu. Salah satu guru ku mengatakan, dirinya ketika remaja pecandu novel juga, saat ini mata minus nya bisa terbilang parah.
Guruku yang lain mengatakan bisa-bisa waktu ku tersisa hanya untuk baca novel (padahal tidak juga).
Dan yang paling ngena adalah guru ku yang satu lagi. Guru yang paling tau tabiatku karna aku sering bertanya hal-hal aneh berkaitan dengan pelajarannya (geografi, ekonomi dan sejarah).
Beliau mengatakan " astri baca novel sehari berapa halaman, lebih banyak mana sama baca Al-Qur'an? "
Ngena bgt.
Memang waktu itu aku sampai bisa menyelsaikan novel cukup tebal hanya dalam waktu sehari semalam saja. Non stop. Waktu itu aku ingat baca novel " bulan terbelah dilangit Amerika " yang aku selesaikan pukul 12 malam lewat. Dan besoknya sebagai hadiah karna ditantang menamatkan novel dalam waktu singkat, aku di traktir makan gratis oleh sahabatku.
(Yaa tidak ada kerjaan memang, dulu potensi dan semangat muda kita belum bisa di arahkan pada jalan yang benar).
Yaa jelas saja pak, aku lebih sering membaca novel daripada baca Al-Qur'an :(

Belum lagi waktu itu guru dan bapaku berkali kali memotivasi untukhafalan Qur'an. Makin tersindirlah aku.
Sedikit-sedikit dikurangi tapi belum juga memberikan titik tolak aku sadar sepenuhnya untuk mengendalikan bahkan menghentikan kecanduan itu.

Tapi jujur saja, banyak sekali pesan dan pelajaran yang bisa kuambil dari novel-novel yang kubaca.

Waktu itu aku masih ingat kelas 7 baca novel remaja islami di sekolah sekuler yaitu Serial Akta. Cukup memberi pelajaran padaku untuk tetap konsisten memegang prinsip di tengah lingkungan dan teman yg berseberangan dgn prinsip kita.

Lalu novel-novel asma nadia, habiburrahman el-shirazy..yang bercorak islami meskipun terdapat kisah-kisah cinta untuk remaja atas, tapi aku tidak fokus pada bagian "cinta" nya, aku lebih fokus pada alur dan karakter pemeran utama yang harus ku contoh dan karakter antagonis yang harus ku jauhi karakter seperti itu.
Ya, aku cukup dewasa untuk memilah dan memilih. Aku sudah bisa berpikir lurus waktu itu pun.
Bahkan ketika dulu pun aku beranggapan "aku bisa tau tanpa harus mengalami".
Aku bukan tergolong remaja yang serba bebas ketika itu, sekalipun lingkungan dan teman-teman ku terbiasa dgn pacaran, gonta ganti pacar, nongkrong, patah hati, dan masalhh remaja umum lainnya. Aku tidak terbawa.
Dan aku bisa mengerti segala perasaan itu dari novel-novel yang kubaca. Aku faham. Membawa fakta dari keadaan sekitar, dan novel, menganalisa nya lalu mengambil pelajaran.
Cukup baik bukan?
Tapi ingat ya, aku tidak memprovokasi siapapun agar suka membaca novel.

Tulisan ini bukan utk pembenaran membaca novel juga. Jangan ikuti jejak baca novel ini ya. Hehe. Sekali-kali boleh lah tapi jgn sampai prioritas.
Aku justru sangat mendukung orang yang kurang minat pada bacaan novel. Pertahankan ya.
Aku sungguh sulit.
Meski selarang bacaan novel bukan prioritas, tetap saja..setelah membaca buku yang lain entah bahan dakwah, materi kuliah atau apapun harus d selingi dengan novel.

Ingatya..pintar-pintar juga pilih novel. Ga semuanya bagus untuk dibaca.

Bersambung...

Komentar