Di dunia ini, ada beberapa jenis manusia ketika menghadapi nasihat orang lain.
Ada yang menerima dengan lapang dada lalu memperbaiki diri.
Ada yang menolak namun diam-diam mengevaluasi diri.
Dan ada yang tidak peduli lalu menolak dengan berbagai alasan.
Aku dapati dirimu kini berada di jenis manusia yang ketiga, teman.
Cukup sedih sebetulnya ketika kau katakan aku tidak mengerti, tidak pernah ada di posisimu dan tidak tau bagaimana rasanya jadi kamu.
Kamu benar, aku memang tidak tau.
Aku terdiam. Ini kesekian kali kamu mengabaikan kata-kata ku.
Dan kali ini dengan perkataan.
Jika biasanya kau pura-pura mendengarkan lalu dibelakang ku berbuat sesuatu.
Kali ini kamu tampakkan penolakanmu langsung dengan kata-kata.
Saudariku, aku peduli padamu. Aku tak mau kamu tersesat di dunia ini. Aku tak ingin melihat kamu tertipu dengan gemerlap perhiasan dunia ini. Bukankah kau sendiri sudah merasakan dikhianati oleh dunia yang kau kejar itu? Bahkan berkali-kali, bukan? Bagaimana rasanya? Sakit? Dan aku yang selalu jadi pelarian terakhirmu. Benar?
Berkali-kali aku diabaikan mu ketika hidupmu baik-baik saja berkali-kali pula kau datang padaku ketika kau dibuat kecewa oleh dunia. Aku tidak marah, sungguh. Mungkin aku sudah terbiasa di perlakukan begitu. Banyak yang datang ketika butuh penguatan lalu pergi ketika ingin menjalankan kehidupan bebas.
Tak apa. Aku tau..bersamaku, kamu tidak bebas menampakkan ekspresi menikmati kilau dunia yang sebenarnya fatamorgana. Aku tau itu lebih dulu dan seringkali kamu terlambat menyadarinya. Namun seperti tak ada kapoknya kau ulangi kebodohan itu berkali kali.
Aku tidak bosan menjadi penasihatmu.😌
Dan hari itu. Aku hanya peduli saja pada kebahagiaanmu. Aku minta kau lepaskan kebencianmu pada orang-orang yg telah menyakitimu.
Lepaskan. Biar ikhlas. Lalu lupa. Dan kamu bisa bahagia. Aku tau itu tidak mudah. Tapi kau harus belajar dengan cara tidak terus mengingatnya.
Ketika kamu memaafkan orang lain, bukan karna kamu salah atau mereka yang benar, tapi kamu berhak atas kedamaian hatimu. Percayalah.
Mungkin itu terakhir kali aku memberimu sedikit nasihat, teman.
Aku tau kamu sudah tak butuh lagi.
Aku tau kamu sudah cukup bosan dengan omelan, nasihat dan segala bentuk kebawelanku.
Maaf..aku akan berhenti berkata-kata padamu.
Silahkan pergi saja dariku. Tapi aku tidak akan menolak jika suatu saat kau kembali lagi padaku dengan luka yang kau perlihatkan padaku akibat disakiti dunia.
Silahkan saja. Aku selalu terbuka untukmu. Hanya saja, aku sudah berhenti dari memepedulikanmu.
Bukan aku sudah bosan..bukan..
Tapi kamu yang tidak mau berubah. Aku tidak bisa memaksa. Perubahan akan terjadi jika diri sendiri ingin berubah. Itu yg Allah firmankan dalam ayat suci nya.
Maaf aku mungkin temanmu yang paling tidak terima ketika aurat mu diumbar.
Maaf juga aku mungkin temanmu yang tidak suka mengiyakan curhatanmu tentang laki-laki yang kau cintai sebelum halal itu.
Maaf pula, aku yang tidak terima kamu terlalu berlebihan dalam keinginan meraih dunia.
Namun saat ini aku sudah berhenti.
Berhenti dari itu semua.
Do'a ku saja yang tidak akan pernah berhenti.
Semoga kau segera menyadari.
Betapa sakitnya didiamkan. Tidak ditegur. Tidak dimarahi. Dibiarkan saja seperti angin. Beruntung jika kau masih di perhatikan dan di marahi. Karna sekali kau didiamkan, kau dianggap tidak ada. Tidak dipedulikan lagi.
Aku berharap kau segera sadar.
Aku menunggumu disini.
Menunggu kamu datang lalu kembali meminta aku membantumu.
Aku tidak akan lari.
Juga tidak akan mengejarmu.
Aku akan diam saja dengan do'a.
Barangkali memang ini yang kamu inginkan dariku sejak lama?
Karna nyatanya, aku lebih sering didatangi ketika kau terjatuh saja?~
Ada yang menerima dengan lapang dada lalu memperbaiki diri.
Ada yang menolak namun diam-diam mengevaluasi diri.
Dan ada yang tidak peduli lalu menolak dengan berbagai alasan.
Aku dapati dirimu kini berada di jenis manusia yang ketiga, teman.
Cukup sedih sebetulnya ketika kau katakan aku tidak mengerti, tidak pernah ada di posisimu dan tidak tau bagaimana rasanya jadi kamu.
Kamu benar, aku memang tidak tau.
Aku terdiam. Ini kesekian kali kamu mengabaikan kata-kata ku.
Dan kali ini dengan perkataan.
Jika biasanya kau pura-pura mendengarkan lalu dibelakang ku berbuat sesuatu.
Kali ini kamu tampakkan penolakanmu langsung dengan kata-kata.
Saudariku, aku peduli padamu. Aku tak mau kamu tersesat di dunia ini. Aku tak ingin melihat kamu tertipu dengan gemerlap perhiasan dunia ini. Bukankah kau sendiri sudah merasakan dikhianati oleh dunia yang kau kejar itu? Bahkan berkali-kali, bukan? Bagaimana rasanya? Sakit? Dan aku yang selalu jadi pelarian terakhirmu. Benar?
Berkali-kali aku diabaikan mu ketika hidupmu baik-baik saja berkali-kali pula kau datang padaku ketika kau dibuat kecewa oleh dunia. Aku tidak marah, sungguh. Mungkin aku sudah terbiasa di perlakukan begitu. Banyak yang datang ketika butuh penguatan lalu pergi ketika ingin menjalankan kehidupan bebas.
Tak apa. Aku tau..bersamaku, kamu tidak bebas menampakkan ekspresi menikmati kilau dunia yang sebenarnya fatamorgana. Aku tau itu lebih dulu dan seringkali kamu terlambat menyadarinya. Namun seperti tak ada kapoknya kau ulangi kebodohan itu berkali kali.
Aku tidak bosan menjadi penasihatmu.😌
Dan hari itu. Aku hanya peduli saja pada kebahagiaanmu. Aku minta kau lepaskan kebencianmu pada orang-orang yg telah menyakitimu.
Lepaskan. Biar ikhlas. Lalu lupa. Dan kamu bisa bahagia. Aku tau itu tidak mudah. Tapi kau harus belajar dengan cara tidak terus mengingatnya.
Ketika kamu memaafkan orang lain, bukan karna kamu salah atau mereka yang benar, tapi kamu berhak atas kedamaian hatimu. Percayalah.
Mungkin itu terakhir kali aku memberimu sedikit nasihat, teman.
Aku tau kamu sudah tak butuh lagi.
Aku tau kamu sudah cukup bosan dengan omelan, nasihat dan segala bentuk kebawelanku.
Maaf..aku akan berhenti berkata-kata padamu.
Silahkan pergi saja dariku. Tapi aku tidak akan menolak jika suatu saat kau kembali lagi padaku dengan luka yang kau perlihatkan padaku akibat disakiti dunia.
Silahkan saja. Aku selalu terbuka untukmu. Hanya saja, aku sudah berhenti dari memepedulikanmu.
Bukan aku sudah bosan..bukan..
Tapi kamu yang tidak mau berubah. Aku tidak bisa memaksa. Perubahan akan terjadi jika diri sendiri ingin berubah. Itu yg Allah firmankan dalam ayat suci nya.
Maaf aku mungkin temanmu yang paling tidak terima ketika aurat mu diumbar.
Maaf juga aku mungkin temanmu yang tidak suka mengiyakan curhatanmu tentang laki-laki yang kau cintai sebelum halal itu.
Maaf pula, aku yang tidak terima kamu terlalu berlebihan dalam keinginan meraih dunia.
Namun saat ini aku sudah berhenti.
Berhenti dari itu semua.
Do'a ku saja yang tidak akan pernah berhenti.
Semoga kau segera menyadari.
Betapa sakitnya didiamkan. Tidak ditegur. Tidak dimarahi. Dibiarkan saja seperti angin. Beruntung jika kau masih di perhatikan dan di marahi. Karna sekali kau didiamkan, kau dianggap tidak ada. Tidak dipedulikan lagi.
Aku berharap kau segera sadar.
Aku menunggumu disini.
Menunggu kamu datang lalu kembali meminta aku membantumu.
Aku tidak akan lari.
Juga tidak akan mengejarmu.
Aku akan diam saja dengan do'a.
Barangkali memang ini yang kamu inginkan dariku sejak lama?
Karna nyatanya, aku lebih sering didatangi ketika kau terjatuh saja?~

Komentar
Posting Komentar