Cerdas Harus, Taqwa Wajib

Cerdas Harus, Taqwa Wajib

Akhir akhir ini kita sering disuguhkan dengan pernyataan2 nyeleneh yang mungkin sekilas sperti biasa saja. Tapi sebetulnya fatal. Pernyataan semacam "Nakal Boleh, bodoh jangan" (dalam artian sebenarnya). Mungkn saya termasuk org2 yg amat menolak statement itu. Kenapa saya katakan statement itu berbahaya dan fatal?
Karna bagi saya itu termasuk "Kemunkaran Ilmu". Apa itu kemunkaran ilmu? Kemunkaran ilmu adalah sumber dari segala kerusakan. Contoh : Seseorang yang tidak shalat namun masih mempercayai shalat itu wajib, masih mending di bandingkan orang yang tidak shalat dan mengatakan kepada orang lain Bahwa shalat itu tidak wajib. Contoh lain : seorang pelacur yg melacur dan sadar akan perbuatan nya itu salah masih mending dibandingkan orang yg melacur dan mengeluarkan satement "Melacur lebih baik dr pada mencuri, toh pekerjaan saya ini utk membiayai keluarga". Kenapa? Karna, utk pernyataan pertama mungkin yg disesatkan hanya dirinya sendri tapi utk pernyataan kedua tidak hanya dia yg sesat namun juga dapat menyesatkan orang lain, apalagi jika statement itu dilayangkan oleh seorang cendekiawan misal, yg pasti dia itu 'mengantongi banyak umat' yg memiliki kepercayaan dr umat. Kita perhatikan rumus berikut : Ilmu yang salah -> menghasilkan ulama yg salah -> Penguasa dan umat pun ikut salah. Faham? Oke kita kembali lagi kepada bahasan sebelumnya.
Kita bahas lebih dalam tentang statement menggelikan yg bernada kan mencari kelegalan atas remaja melakukan perbuatan menyimpang.
"Gapapa nyeleneh asalkan pinter" . Hehehe.. jika dilihat dari sudut pandang keilmuan Barat yg gaya hidup nya sekuler, ya benar bisa di terima.
Tapi jika dilihat dari sudut pandang keilmuan islam, tsaqofah islam dan gaya hidup islam statement itu jelas sangat tidak relevan dan di tolak.
Dalam tradisi Barat, mungkin tidak mengherankan jika kita menemukam sebuah kasus seorang dosen yang profesional, pintar dan berprestasi dgn pekerjaan nya sbg dosen di universitas. Namun, Keluar dari profesinya di kehidupan sosial dia seorang Gay, penyuka sesama jenis yang sangat kita ketahui seharusnya hal itu tdk relevan dgn profesi nya sbg dosen. Namun utk mayoritas orang barat, itu tidak masalah . Selama dia menjalankan tugas nya dengan baik dan berbuat baik kpd orang lain itu tidak masalah sekalipun dia seorang gay. Itu contoh di kehidupan barat. (Baca bukunya Paul Johnson berjudul Intellectuals)
Bagaimana dengan islam?
Didalam islam, kita tdk menemukan adanya pemisahan antara kecerdasan dan ketaqwaan. Sbg contoh, seorang perawi hadist dikatakan hadist nya dpt diterima sbg hadist mutawatir/hasan/shahih jika hadist itu memenuhi kriteria. Salah satu kriteria nya adalah "Seorang perawi tidak boleh ada riwayat berbohong". Luar biasa sekali bukan? jangan kan seorang gay, berbohong saja sudah mendpt garis diskualifikasi utk hasil keilmuannya.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Jelas sekali karna dalam islam Kecerdasan itu berkolerasi dengan ketaqwaan. Sebagai seorang muslim sudah seharusnya menaati hukum syara'. Konsekuensi dari keimanan adalah terikat dgn hukum syara' , pondasi dari hukum syara' adalah aqidah dan akhlak yg baik adalah bagian dr hukum syara'.
Begitulah Islam, sempurna dan paripurna dalam memberikan aturan bagi umat nya.
Ingat ya pesan dari saya, jangan mau dijebak dan terjebak dgn statement2 'nyeleneh' yg sperti terlihat benar padahal trik barat utk menyisiplan pemikiran rusak dan merusaknya kepada pemuda muslim.
Jangan ngikut2 teori barat utk menyusun kerangka berpikir mu, kita sudah berada di jalan yang benar dan lurus, susun kerangka berpikir mu dengan islam.

#IslamRahmatanLil'Alamiin

Komentar